Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) https://ojs-jireh.org/index.php/jireh <p style="text-align: justify;"><strong>TENTANG JURNAL JIREH</strong></p> <p style="text-align: justify;">Nama jurnal ini adalah&nbsp;<strong>Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH).</strong>&nbsp;JIREH diterbitkan oleh&nbsp;<strong>Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) </strong>Kupang, Nusa Tenggara Timur. Periode terbitan dua kali dalam satu tahun, yaitu Juni dan Desember. Jurnal ini terdaftar di CrossRef dengan Digital Object Identifier&nbsp;(DOI)<strong>&nbsp;</strong><strong>prefix&nbsp;</strong> 10.37364/jireh. <strong>ISSN</strong> Jurnal:&nbsp;<a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1560218208&amp;1&amp;&amp;">2685-1466</a>&nbsp;(Online) dan&nbsp;<a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1560219127&amp;1&amp;&amp;">2685-1393</a>&nbsp;(Printed). Jurnal JIREH memiliki spesifikasi terbitan di bidang Pendidikan Keagamaan, Dinamika Keagamaan, Riset Teologi Keagamaan, Etika Keagamaan, Musik dan Agama, serta Budaya dan Agama. Proses review jurnal ini menggunakan <em>Double Blind Peer Review</em>. Artinya, artikel atau naskah akan ditelaah oleh teman sejawat, yang mana identitas reviewer dan penulis disembunyikan, sehingga reviewer tidak mengetahui artikel siapa yang sedang ditelaah dan penulis juga tidak mengetahui siapa yang menelaah artikelnya.</p> <p style="text-align: justify;">Penyebutan atau penamaan JIREH didalilkan dari akronim Jurnal Ilmiah <em>Religiosity-Entity-Humanity</em> dalam kebermaknaan bebas yaitu tulisan ilmiah yang memuat keberagamaan-kewujudan-kemanusiaan. Frasa JIREH sendiri memiliki arti yang sangat sakral dalam konteks bahasa dan budaya Ibrani (lihat kajian keyahudian). Jireh dalam kamus bahasa Ibrani didahului oleh frase Jehova. Maka kata Jehova Jireh dalam bahasa Ibrani diartikan sebagai <strong><em>God sees </em></strong>atau <strong>Allah yang melihat</strong>. Bahkan dalam naskah Ibrani terbaca: di atas gunung TUHAN Ia memperlihatkan diri atau Allah yang menampakkan diri. Dengan asumsi tersebut, maka tulisan dalam jurnal ini dapat melihat maha karya Allah terlukis pada rangkaian kata dan kalimat inspiratif dengan disiplin ilmu yang ketat.</p> <p style="text-align: justify;">Disiplin ilmu terpilih tersebut diyakini akan berkontribusi dalam kosmos praksis yang relevan dan elegan pada basis kemandirian. <em>Religiosity</em> (keberagamaan) adalah bentuk internalisasi nilai agama dan keterikatan manusia terhadap Tuhan yang mengandung norma-norma untuk mengatur perilaku manusia tersebut dalam hubungan dengan Tuhan, manusia lain, maupun lingkungannya.</p> <p style="text-align: justify;"><em>Entity</em> (kewujudan) adalah sebuah “benda” (thing) atau “objek” (object) di dunia nyata yang dapat dibedakan dari semua objek lainnya. Dengan kata lain, kajian ilmu yang tersaji merupakan realitas yang dilandasi oleh kesadaran yang berwujud atau lahir dari basis kepakaran penulis tentunya.</p> <p style="text-align: justify;"><em>Humanity </em>(kemanusiaan) merupakan tataran keilmuan yang bersinggungan dengan filsafat pemikiran, kemelekatannya pada nilai-nilai manusia. Konsekuansi logis dari gagasan <em>humanity</em> mampu membumi memberi jawab pada problematika rumit di tengah saratnya tuntutan kehidupan. Dengan demikian, koherensi dari bidang tinjauan di atas dirangkai secara populis dan akademis yaitu konsepsi pemikiran nilai-nilai kemanusiaan yang bertalian dengan norma-norma keberagamaan pada obyek riil berpangku pada kesadaran keilmuan.</p> en-US <p>Copyright&nbsp;© 2019. Published by STTIK Kupang - Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH). All Right Reserved.</p> rintohutapea81@gmail.com (Rinto Hasiholan Hutapea) marsibombongan@gmail.com (Marsi Bombongan Rantesalu, M.Th) Sat, 19 Jun 2021 00:00:00 +0000 OJS 3.1.1.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Tanggapan Alkitab dan Gereja Terhadap Faktor Pemicu Terjadinya Perceraian https://ojs-jireh.org/index.php/jireh/article/view/47 <p><em>The divorce rate in Indonesia is increasingly showing a significant upward trend. Therefore, this study aims to describe the factors of divorce, the response of Lakit and the church to the divorce. Divorce doesn't just happen. Divorce is triggered by various factors. These factors are used as justification for conducting a divorce. Those reasons are used as the basis for suing and carrying out a divorce. The Bible is against divorce. God hates divorce. God never designed a marriage for divorce. Biblical marriage is marriage for life. Marriage must be built on a strong foundation, namely love. Like the bond of love between Christ and His church, so is the bond of husband and wife in a marriage. The church is in line with the Bible / Word of God, does not tolerate divorce. The church must strive to prevent its people from divorcing. Because divorce does not solve problems, but in Christ and His love all problems that arise in marriage can be resolved. He is in Christ and in His love there must be a way out. The method used by researchers in this writing is descriptive qualitative by using literature sources that support the writing of this article. Hopefully the results of this research can be a reference for pastors and churches and people to solve every problem in marriage wisely so that it doesn't end in divorce.</em></p> <p>Angka perceraian di Indonesia semakin menunjuk tren peningkatan yang signifikan. Karena itu penelitian ini bertujuan untuk memaparkan faktor-faktor perceraian, tanggapan Alkitab dan gereja terhadap perceraian tersebut. Perceraian dipicu oleh berbagai faktor. Alasan-alasan itulah yang dijadikan sebagai dasar untuk menuntut dan melakukan perceraian. Alkitab menentang perceraian. Tuhan tidak pernah merancang sebuah pernikahan untuk perceraian. Pernikahan Alkitabiah adalah pernikahan seumur hidup. Pernikahan harus dibangun dasar yang kuat yaitu kasih. Seperti ikatan kasih antara Kristus dan jemaatNya. Gerejapun sejalan dengan Alkitab/Firman Allah, tidak mentolerir adanya perceraian. Gereja harus berjuang untuk menghindarkan umatnya dari perceraian. Sebab perceraian tidak menyelesaikan masalah, tetapi di dalam Kristus dan kasihNya semua persoalan yang muncul dalam pernikahan bisa diselesaikan. Adapun metode yang dipergunakan peneliti dalam penulisan ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan sumber-sumber literatur yang mendukung penulisan artikel ini. Kiranya hasil penelitian ini, dapat menjadi acuan bagi Pendeta dan gereja serta umat untuk menyelesaikan setiap masalah dalam pernikahan secara bijak sehingga tidak berakhir dengan perceraian.</p> Ricu Sele, Soelistiyo Daniel Zacheus ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://ojs-jireh.org/index.php/jireh/article/view/47 Fri, 18 Jun 2021 10:30:33 +0000 Tinjauan Teodise Dalam Kitab Ayub dan Implikasi Bagi Umat Kristen di Tengah Pandemi COVID-19 https://ojs-jireh.org/index.php/jireh/article/view/53 <p><em>The COVID-19 pandemic is an epidemic that is shaking the world today. Its appearance unsettled many people, as many people were affected. Like losing a job, a business goes bankrupt, many lives are lost, some countries are hit by a recession, so suffering is created. From this suffering, there are some people or groups who think that the COVID-19 pandemic arises as a result of human sins and violations against God. </em><em>By using the literature study method, which departs from compiled data obtained from various books and presented in descriptive form, then</em><em> the</em><em> study in this article will discuss the Book of Job which describes the suffering that befell the person Job without cause. The three friends responded to Job’s personal suffering as God’s punishment for sin. But he was godly men, fearing God, and shunning evil (1:1). The results of the study of the Book of Job showed that the suffering he experienced was not because God had punished Job personally. It is because God has His own purpose for Him. Thus, it can be concluded that the emergence of the COVID-19 pandemic is not the result of human sin. </em></p> <p>&nbsp;</p> <p>Pandemi COVID-19 merupakan sebuah wabah yang mengguncangkan dunia dewasa ini. Kemunculannya membuat resah banyak orang, dimana banyak orang yang terkena dampak. Seperti kehilangan pekerjaan, usaha bangkrut, banyak nyawa yang hilang, beberapa negara terkena resesi, sehingga penderitaan pun tercipta. Dari penderitaan tersebut ada beberapa orang atau kelompok yang beranggapan bahwa pandemi COVID-19 muncul akibat dosa dan pelanggaran manusia terhadap Allah. Dengan menggunakan metode studi literatur, yang berangkat dari kompilasi data yang didapat dari berbagai buku dan disajikan dalam bentuk deskriptif, maka kajian dalam artikel ini akan membahas Kitab Ayub yang menggambarkan tentang penderitaan yang menimpa pribadi Ayub tanpa sebab. Penderitaan yang menimpa pribadi Ayub direspon oleh ketiga temannya sebagai hukuman Allah akibat dosa. Tetapi ia adalah seorang yang saleh, takut akan Tuhan, dan menjauhi kejahatan (1:1). Hasil kajian Kitab Ayub ternyata penderitaan yang dialami bukan karena Allah menghukum pribadi Ayub. Melainkan karena Allah memiliki tujuan-Nya sendiri bagi dirinya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kemunculan pandemi COVID-19 bukan akibat dari dosa manusia.</p> Gabriel Dhandi, Firman Panjaitan ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://ojs-jireh.org/index.php/jireh/article/view/53 Fri, 18 Jun 2021 10:43:19 +0000 Toleransi Beragama Sebagai Pendekatan Misi Kristen Di Indonesia https://ojs-jireh.org/index.php/jireh/article/view/56 <p><em>This article discusses religious tolerance as a mission approach in Indonesia. Religious toleranceis not sufficient to respond only to the attitude of acknowledging and accepting reality indifferent beliefs. But it must also be understood as a way that is formed in the attitude of socialinteraction which recognizes that they must need other people in their differences. If not, thenthey will be faced with problems of personal beliefs driven by different teaching understandingswhich lead to conflict in the division of the nation. This article uses a qualitative approach with adescriptive analysis method. Religious tolerance is one of the &amp;quot;assets&amp;quot; for the creation of theUnitary State of the Republic of Indonesia (NKRI) in different ethnicities, cultures and religions.The religious tolerance that exists in Indonesian society is an opportunity to bring peace with theform of accommodation in the form of social interactions to avoid conflict which results in thedivision of the nation so that this has an impact on the peace and harmony of nations in differentbeliefs. This is also a form of mission approach with an attitude of faith that brings peace to God love in the midst of differences in ethnicity, culture and religious beliefs.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p>Artikel ini membahas mengenai toleransi beragama sebagai pendekatan misi di Indoensia: Toleransi agama tidak cukup hanya direspon dengan sikap mengakui dan menerima kenyataan dalam keyakinan yang berbeda, namun harus dipahami sebagai cara yang terbentuk dalam sikap interaksi sosial yang mengakui bahwa mereka harus membuthkan orang lain dalam perbedaan, jika tidak maka&nbsp; akan diperhadapkan dengan maslah-masalah keyakinan pribadi yang didorong dengan pemahaman pengajaran yang berbeda yang mengikibatkan konflik pada perpecahan bangsa. Adapun artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Toleransi beragama adalah salah satu “modal” bagi terciptanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam berbedaan suku, budaya dan agama. Sikap toleransi agama yang ada di tengah masyarakat Indonesia, merupakan kesempatan untuk membawa damai dengan bentuk akomodasi dalam wujud interkasi sosial demi menghidari konflik yang mengikibatkan pada perpecahan bangsa sehingga hal ini berdampak pada kedamaiaan dan kerhamonisan berbangsa dalam keyakinan yang berbeda. Tentunya ini juga sebagai bentuk pendekatan misi dengan sikap iman yang membawa damai kasih Allah ditengah-tengah perbedaan suku, budaya dan keyakinan agama.</p> Veydy Yanto Mangantibe, Mario Chlief Taliwuna ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://ojs-jireh.org/index.php/jireh/article/view/56 Fri, 18 Jun 2021 10:54:29 +0000 Penyusunan Kurikulum Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia https://ojs-jireh.org/index.php/jireh/article/view/57 <p><em>The rapid development of Science and Technology in the era of the Industrial Revolution 4.0 has influenced various aspects of human life, both in the world of work and the world of education. The purpose of this article is written with the hope that Christian Religious Colleges can answer the challenges of the Industrial Revolution 4.0 in order to produce human resources or graduates who are able to compete in the midst of global competition. One of the steps is to reconstruct a curriculum that is responsive to technological developments. The compilation and implementation of curricula at Christian Religious Colleges must refer to KKNI and the National Higher Education Standards. The research method used is qualitative research with a literature study approach. The analysis process carried out is to use various literary sources, both journals, books and other reliable reference materials to support the author's analysis. Thus it can be concluded that there are six steps in the preparation of the curriculum for Christian Religious Higher Education which refers to the Indonesian National Qualifications Framework (KKNI): 1. Formulating a Graduate Profile; 2. Formulating Graduate Learning Outcomes; 3. Determine the Study Material; 4. Compiling Subjects; 5. Determining the Structure of the Course and, 6. Developing a semester learning plan (RPS).</em></p> <p>&nbsp;</p> <p>Derasnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di era Revolusi Industri 4.0 telah mempengaruhi pelbagai aspek kehidupan manusia, baik di dunia kerja maupun dunia pendidikan. Tujuan artikel ini ditulis dengan harapan Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen dapat menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0 guna menghasilkan sumber daya manusia atau lulusan yang mampu bersaing di tengah persaingan global. Salah satu langkahnya adalah merekonstruksi kurikulum yang responsif terhadap perkembangan teknologi. Penyusunan dan pelaksanaan kurikulum di Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen wajib mengacu pada KKNI dan Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Proses analisis yang dilakukan adalah menggunakan berbagai sumber literatur-literatur baik jurnal,&nbsp; buku dan bahan referensi lainnya yang terpercaya untuk mendukung analisis penulis. Dengan demikian&nbsp; dapat&nbsp; disimpulkan ada enam langkah dalam penyusunan kurikulum Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen yang mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI): 1. Merumuskan Profil Lulusan; 2. Merumuskan Capaian Pembelajaran Lulusan; 3. Menentukan Bahan Kajian; 4. Menyusun Matakuliah; 5. Menetapkan Struktur Matakuliah dan, 6. Menyusun Rencana pembelajaran semester (RPS).</p> Markus Oci, Kalis Stevanus ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://ojs-jireh.org/index.php/jireh/article/view/57 Fri, 18 Jun 2021 00:00:00 +0000 Potret Kekristenan Pada Suku Dayak Pesaguan Di Provinsi Kalimantan Barat https://ojs-jireh.org/index.php/jireh/article/view/58 <p><em>The Pesaguan Dayak tribe is a tribe in West Kalimantan Province. Most of the people of this tribe are Catholic and Protestant. In the initial observation (pre-research), it seems that their understanding of the Bible and its position in the practice of life needs attention. However, in everyday life, the Pesaguan Dayak community is still robust with the customs, ethics, and moral norms of the tribal religion. To obtain a Christian portrait of the Pasaguan Dayak tribe, the researchers used qualitative research methods, emphasizing surveys or observations and interviews. From the results of research and interviews conducted, it was found that in the daily life of the Pesaguan Dayak people, the Bible is not the primary basis for the Pesaguan Dayak tribe. Another portrait of Christianity found in the field is the absence of awareness from the Pesaguan Dayak community to reach out to Malays to believe in Jesus, even though they live next door.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p>Suku Dayak Pesaguan adalah suku yang berada di Provinsi Kalimantan Barat. Sebagian besar orang-orang dari suku ini beragama Katolik dan Protestan. Pada obersevasi awal (prapenelitian), tampaknya pemahaman mereka tentang Alkitab dan posisinya dalam praktik kehidupan, perlu mendapat perhatian. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat suku Dayak Pesaguan masih sangat kuat dengan adat istiadat, etika dan norma-norma moral agama suku.&nbsp; Untuk memperoleh potret kekristenan suku Dayak Pasaguan, maka peneliti memanfaatkan metode penelitian kualitatif, dengan menekankan pada survei atau observasi dan wawancara. Dari hasil penelitian dan wawancara yang dilakukan, ditemukan bahwa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat suku Dayak Pesaguan, Alkitab bukanlah landasan dasar utama yang dimiliki suku Dayak Pesaguan. Potret kekristenan lainya yang ditemukan di lapangan yaitu belum adanya kesadaran dari masyarakat suku Dayak Pesaguan untuk menjangkau orang Melayu untuk percaya pada Yesus, meskipun mereka hidup bertetangga.</p> Tio Pilus Arisandie ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://ojs-jireh.org/index.php/jireh/article/view/58 Fri, 18 Jun 2021 11:08:35 +0000 Jaminan Keselamatan Dalam Injil Yohanes 10:28-29 Dan Implikasinya Bagi Pengajar Pendidikan Agama Kristen https://ojs-jireh.org/index.php/jireh/article/view/59 <p><em>The doctrine of salvation (soteriology) is one of the most important doctrines in Christianity. The doctrine of soteriology needs to be understood and understood properly and correctly, so as not to lead to misleading interpretations. One of the interesting verses to discuss in the doctrine of soteriology is the assurance of salvation in the Gospel of John 10: 28-29. For this reason, in this article, the author will analyze the Gospel of John 10: 28-29 in order to provide a soteriological understanding that is in accordance with the truths contained in the text. The result of the analysis of this article is that Jesus guarantees the salvation of believers so that they do not perish forever, and God the Father also guarantees this salvation. Therefore, believers will receive the power of the Holy Spirit so that they can practice every truth that God wants in their lives. Thus, every believer can have a correct understanding of the assurance of his safety. This needs to be a concern for Christian educators, whether they teach in families, schools, or churches.</em></p> <p>Doktrin keselamatan (soteriologi) adalah salah satu doktrin yang sangat penting di dalam Kekristenan. Doktrin soteriologi perlu untuk dapat dimengerti dan dipahami dengan baik dan benar, agar tidak menimbulkan penafsiran yang menyesatkan. Salah satu ayat yang cukup menarik untuk dibahas dalam doktrin soteriologi adalah mengenai jaminan keselamatan dalam Injil Yohanes 10:28-29. Untuk itu, dalam artikel ini, penulis akan menganalisis Injil Yohanes 10:28-29 agar dapat memberikan pemahaman soteriologi yang sesuai dengan kebenaran yang ada di dalam nats tersebut. Hasil dari analisis artikel ini ialah, Yesus memberikan jaminan keselamatan bagi orang-orang percaya agar tidak binasa sampai selama-lamanya, dan Allah Bapa juga ikut menjamin keselamatan tersebut. Oleh sebab itu, orang-orang percaya akan menerima kuasa Roh Kudus sehingga mereka dapat melakukan setiap kebenaran yang dikehendaki Allah di dalam kehidupannya. Dengan demikian, agar setiap orang percaya dapat memiliki pemahaman yang benar mengenai jaminan keselamatannya. Hal ini perlu menjadi perhatian bagi para pendidik Kristen, baik yang mengajar di keluarga, sekolah, maupun gereja.</p> Yunardi Kristian Zega ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 https://ojs-jireh.org/index.php/jireh/article/view/59 Fri, 18 Jun 2021 13:25:51 +0000